Teknologi HPAL Dorong Hilirisasi Nikel Indonesia Menuju Kemandirian Industri EV

Rabu, 26 November 2025 | 10:06:49 WIB
Teknologi HPAL Dorong Hilirisasi Nikel Indonesia Menuju Kemandirian Industri EV

JAKARTA - Perkembangan industri nikel nasional memasuki fase penting yang menandai perubahan besar dalam strategi hilirisasi yang selama ini ditekankan pemerintah. Kenaikan kebutuhan material baterai kendaraan listrik mendorong Indonesia untuk mengoptimalkan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang mampu mengolah bijih nikel kadar rendah atau limonit.

Upaya pemanfaatan limonit melalui teknologi HPAL menjadi perhatian karena potensi peningkatan nilai tambah yang jauh lebih besar. Teknologi ini memungkinkan Indonesia memaksimalkan cadangan nikel yang sebelumnya sulit diolah dengan metode tradisional seperti Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).

Permintaan global terhadap bahan baku baterai terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang semakin agresif. Oleh sebab itu, pembangunan fasilitas HPAL menjadi salah satu strategi vital dalam mempertahankan daya saing Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia.

Menurut data yang tersedia, cadangan nikel Indonesia mencapai sekitar 55 juta ton atau 42 persen cadangan global. Posisi ini memberikan peluang besar untuk memperluas rantai industri kendaraan listrik dalam negeri.

Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia mampu menghasilkan hingga 13 juta kendaraan listrik dalam beberapa tahun mendatang. Target tersebut hanya dapat tercapai dengan dukungan pasokan bahan baku nikel limonit yang harus diproses melalui fasilitas HPAL.

Perhitungan kebutuhan menunjukkan satu kilowatt hour baterai mobil listrik memerlukan 0,7 kilogram nikel limonit. Selain itu, dibutuhkan pula 0,096 kilogram mangan dan 0,096 kilogram kobalt untuk melengkapi komposisi material baterai.

Hingga 93 persen kebutuhan bahan baku tersebut telah tersedia di dalam negeri. Sementara itu, lithium yang sekitar 7 persen masih harus diimpor untuk melengkapi kebutuhan produksi.

Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin, Setia Diarta, menegaskan bahwa penguatan rantai pasok nikel sangat penting dalam menunjang industri EV nasional. Ia menekankan bahwa hilirisasi nikel tidak berhenti pada produksi bahan baku, melainkan harus mencakup kemampuan daur ulang baterai.

Pengembangan teknologi daur ulang diyakini dapat mendukung kemandirian industri baterai Indonesia. Langkah ini sekaligus membantu memperkuat daya saing global dalam menyediakan material kritis kendaraan listrik.

Setia Diarta menyebut pemerintah sedang mendorong perluasan hilirisasi baterai berbasis nikel. Ia optimistis dalam dua tahun ke depan hasil produksi baterai dalam negeri sudah dapat diwujudkan.

Keunggulan Teknologi HPAL dalam Proses Pengolahan Nikel Berketahanan Masa Depan

Teknologi HPAL bekerja dengan metode pelarutan bijih nikel menggunakan tekanan dan temperatur tinggi. Proses kimia ini memungkinkan pemisahan logam strategis seperti nikel dan kobalt dari bijih limonit.

Hasil pengolahan HPAL dapat berupa produk antara seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mixed Sulphide Precipitate (MSP). Keduanya merupakan bahan baku penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik berbasis nickel-manganese-cobalt (NMC).

Dibandingkan teknologi RKEF, HPAL unggul karena dapat memanfaatkan bijih nikel kadar rendah. Bijih limonit dengan kadar 0,8 hingga 1,5 persen dapat diproses menjadi produk bernilai tinggi melalui metode ini.

Keunggulan tersebut menjadikan HPAL sangat relevan bagi negara yang ingin memaksimalkan cadangan mineral kritisnya. Indonesia memiliki potensi besar karena komposisi cadangan limonit yang melimpah di berbagai wilayah tambang.

Teknologi HPAL juga mendukung target keberlanjutan dan pengurangan emisi karbon. Proses ini dinilai menghasilkan intensitas karbon lebih rendah dibanding proses peleburan konvensional.

Seiring meningkatnya kebutuhan industri EV, teknologi HPAL akan memainkan peran penting dalam mendukung program hilirisasi nasional. Fasilitas HPAL yang terus dibangun menunjukkan komitmen jangka panjang dalam menjaga posisi strategis Indonesia di rantai pasok global.

Saat ini, berbagai perusahaan termasuk BUMN tengah mengembangkan proyek HPAL di beberapa wilayah. Pengembangan ini menjadi bukti transformasi besar yang mengarah pada peningkatan nilai tambah sektor mineral dalam negeri.

Peran Strategis BUMN Melalui Proyek HPAL dan Penguatan Rantai Pasok Nikel

Holding BUMN pertambangan MIND ID turut berperan dalam pengembangan fasilitas HPAL di Indonesia. Melalui kolaborasi bersama PT Vale Indonesia di Sorowako, MIND ID menargetkan peningkatan nilai tambah pengolahan nikel limonit.

Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, menyampaikan bahwa HPAL merupakan teknologi mutakhir dalam mengolah bijih berkadar rendah. Menurutnya, inovasi ini bukan hanya menambah efisiensi, tetapi juga mengurangi emisi dalam proses produksi.

MIND ID melihat peluang besar dalam penguatan rantai pasok industri kendaraan listrik berbasis nikel. Dengan kemampuan memproduksi bahan baku seperti MHP, Indonesia berpeluang memperluas pengaruhnya pada pasar baterai global.

PT Vale Indonesia menargetkan pendanaan eksternal antara 1 hingga 1,2 miliar dolar AS hingga 2027. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan tiga proyek tambang nikel utama di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako.

Tahap awal pendanaan sekitar 500 juta dolar AS akan diperoleh melalui pinjaman bank pada 2026. Sementara itu, pendanaan sisanya berpotensi dihimpun melalui penerbitan obligasi pada 2027.

Ketiga proyek tambang tersebut kini memasuki tahap konstruksi yang progresif. Proyek Bahodopi ditargetkan mulai berproduksi tahun ini dan akan diikuti proyek Pomalaa pada 2026.

Fasilitas HPAL Pomalaa dikembangkan bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Co. Proyek ini direncanakan selesai pada kuartal IV tahun 2026.

Di Bahodopi, Vale menggandeng GEM Co., Ltd untuk pembangunan fasilitas HPAL. Perusahaan juga membuka peluang kemitraan tambahan untuk memperkuat rantai produksi.

Di Sorowako, Vale telah menjalin kerja sama awal dengan Huayou. Upaya penjajakan terhadap calon mitra lain terus dilakukan untuk mempercepat konstruksi.

Langkah strategis pemerintah dan BUMN melalui teknologi HPAL melahirkan harapan baru bagi industri nikel Indonesia. Transformasi besar ini menunjukkan bahwa Indonesia tengah memasuki fase baru yang lebih maju dalam pengelolaan mineral kritis.

Perubahan ini sekaligus menandai masa depan industri kendaraan listrik nasional yang lebih mandiri. Hilirisasi yang diperkuat inovasi dan teknologi diharapkan memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi Indonesia.

Indonesia kini berada pada momentum penting untuk memaksimalkan potensi mineral strategisnya. Dengan pengembangan HPAL, nilai tambah dari sektor nikel dapat terus ditingkatkan.

Transformasi hilirisasi ini menjadi pondasi penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang kompetitif. Peluang menjadi pusat industri baterai dunia kini semakin terbuka melalui teknologi yang terus dikembangkan.

Terkini